MENCINTAI ALLAH

MENCINTAI ALLAH

Bandar Lampung, Limamenitnews.com

Assalamualaikum wrwb.

Sebagai Hamba Allah, setiap seseorang mencintai Allah, berarti dia tahu apa yang disukai Allah dan apa yang tidak disukai Allah.

Yang di sukai oleh Allah :
Allah SWT berfirman:

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرٰى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
wa zakkir fa innaz-zikroo tanfa’ul-mu`miniin

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 55)

Allah SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
wa maa kholaqtul-jinna wal-insa illaa liya’buduun

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56).

Selanjutnya memahami, surat Yasin dan surat-surat lain nya Kitab suci Al Quran

Sebagai hamba Allah, kita tahu surat surat kitab suci Al-Qur’an adalah kabar.
Karena setiap surat apa pun yang kita baca adalah kabar berita.

Kirab suci Al Quran adalah suatu berita penjelasan dari Allah, tentang para nabi terdahulu, tentang nabi Muhammad Saw,
Yang Allah perjalankan semasa hidupnya.

Dalam konteks yang sederhana kisah sejarah para nabi dan Rosullullah adalah Nara sumber langsung dari Allah.

Mungkin kita tidak memahami maksud maksud apa yang ada di dalam kabar berita di Al Qur’an tersebut, sebagai surat surat firman firman Allah.

Tetapi secara sederhana Allah memerintahkan kita untuk beribadah kepada Allah.

Dalam beribadah kepada Allah inilah, secara sederhana kita harus mengenal sejarah nabi Muhammad Saw, dengan segala sifat sifat Nabi Muhammad Saw.

Sifat nabi Muhammad Saw, Sidik, amanah, Fatonah taqbelik,

Secara sederhana lagi yang terpenting adalah beribadah kepada ALLAH.

Konteks beribadah kepada Allah sangat lah luas.
Mari kita renungkan Suatu nasehat AULIYA ALLAH, SYEKH ABDUL MUBAROK BIN NUR MUHAMMAD.

          TAMBIH

إلٰى حَضْرَةِ الشَّيْخِ عَبْدُ اللّٰهِ مُبَارَكْ بِنْ نُوْر مُحَمَّدْ ، اَلْفَـاتـِحَةَ
Ilaa Hadhrotis Syaikh Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad radhiyalloohu ‘anhu.
AL-FAATIHAH
TANBIH
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Bismillaahirrohmaanirrohiim
TANBIH ini dari SYAIKHUNA Almarhum SYAIKH ABDULLAH MUBAROK bin NUR MUHAMMAD yang bersemayam di Patapan Suryalaya Kajembaran Rahmaniyah.
Sabda beliau kepada khususnya segenap murid-murid pria, wanita, tua, muda :
Semoga ada dalam kebahagiaan, dikaruniai Alloh SWT kebahagiaan yang kekal dan abadi dan semoga tak akan timbul keretakan dalam lingkungan kita sekalian.
Pun pula semoga Pimpinan Negara bertambah kemuliaan dan keagungannya supaya dapat melindungi dan membimbing seluruh rakyat dalam keadaan aman, adil dan makmur zhohir maupun bathin.
Pun kami tempat orang bertanya tentang THORIIQOH QOODIRIYAH NAQSYABANDIYAH Pondok Pesantren Suryalaya, menghaturkan dengan tulus ikhlas wasiat kepada segenap murid-murid : Berhati-hatilah dalam segala hal jangan sampai berbuat yang bertentangan dengan peraturan AGAMA dan NEGARA.
Ta’atilah kedua-duanya tadi sepantasnya, demikianlah sikap manusia yang tetap dalam keimanan, tegasnya dapat mewujudkan kerelaan terhadap AGAMA dan NEGARA, taat kepada HADLIRAT ILAAHI yang membuktikan perintah dalam AGAMA dan NEGARA.
Insyafilah hai murid-murid sekalian, janganlah terpaut oleh bujukan nafsu, terpengaruh oleh godaan setan, waspadalah akan jalan penyelewengan terhadap perintah AGAMA dan NEGARA, agar dapat meneliti diri, kalau-kalau tertarik oleh bisikan Iblis yang selalu menyelinap dalam hati sanubari kita.
Lebih baik buktikan kebajikan yang timbul dari kesucian :
Terhadap orang-orang yang lebih tinggi daripada kita, baik dhohir maupun bathin, harus kita hormati, begitulah seharusnya hidup rukun, saling menghargai.
Terhadap sesama yang sederajat dengan kita dalam segala-galanya, jangan sampai terjadi persengketaan, sebaliknya harus bersikap rendah hati, bergotong royong dalam melaksanakan perintah AGAMA dan NEGARA, jangan sampai terjadi perselisihan dan persengketaan, kalau-kalau kita terkena firman-Nya “ADZAABUN ALIM”, yang berarti duka nestapa untuk selama-lamanya dari dunia sampai dengan akhirat (badan payah, hati susah).
Terhadap oarang-orang yang keadaannya di bawah kita, janganlah hendak menghinakannya atau berbuat tidak senonoh, bersikap angkuh, sebaliknya harus belas kasihan dengan kesadaran, agar mereka merasa senang dan gembira hatinya, jangan sampai merasa takut dan liar, bagaikan tersayat hatinya, sebaliknya harus dituntun dibimbing dengan nasehat yahng lemah-lembut yang akan memberi keinsyafan dalam menginjak jalan kebaikan.
Terhadap fakir-miskin, harus kasih sayang, ramah tamah serta bermanis budi, bersikap murah tangan, mencerminkan bahwa hati kita sadar. Coba rasakan diri kita pribadi, betapa pedihnya jika dalam keadaan kekurangan, oleh karena itu janganlah acuh tak acuh, hanya diri sendirilah yang senang, karena mereka jadi fakir miskin itu bukannya kehendak sendiri, namun itulah kodrat Tuhan.
Demikanlah sesungguhnya sikap manusia yang penuh kesadaran, meskipun terhadap orang asing karena mereka itu masih keturunan Nabi Adam a.s. mengingat ayat 70 Surat Al-Isro’ yang artinya :
“Sangat Kami mulyakan keturunan Adam dan Kami sebarkan segala yang berada di darat dan di lautan, Kami berikan mereka rezeki yang baik-baik dan juga Kami mengutamakan mereka lebih utama dari makhluk lainnya.”
Kesimpulan dari ayat ini, bahwa kita sekalian seharusnya saling harga menghargai, jangan timbul kekecewaan, mengingat Suroh Al-Maidah yang artinya :
“Hendaklah tolong menolong dengan sesama dalam melaksanakan kebajikan dan ketaqwaan dengan sungguh-sungguh terhadap AGAMA dan NEGARA, sebaliknya janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan terhadap perintah AGAMA dan NEGARA “.
Adapun soal keagamaan, itu terserah agamanya masing-masing, mengingat Suroh Al-Kafirun ayat 6 :
”Agamamu Untuk Kamu, Agamaku Untuk Aku”
Maksudnya jangan terjadi perselisihan, wajiblah kita hidup rukun dan damai, saling harga menghargai, tetapi janganlah sekali-kali ikut campur. Cobalah renungkan pepatah leluhur kita:
“Hendaklah kita bersikap budiman, tertib dan damai. Andaikan tidak demikian, pasti sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna”
Karena yang menyebabkan penderitaan diri pribadi itu adalah akibat dari amal perbuatan diri sendiri. Dalam Suroh An-Nahl ayat 112 diterangkan bahwa :
“Tuhan yang Maha Esa telah memberikan contoh, yakni tempat maupun kampung, desa maupun negara yang dahulunya aman dan tenteram, gemah ripah loh jinawi, namun penduduknya/ penghuninya mengingkari nikmat-nikmat Alloh, maka lalu berkecamuklah bencana kelaparan, penderitaan dan ketakutan yang disebabkan sikap dan perbuatan mereka sendiri”.
Oleh karena demikian, hendaklah segenap murid-murid bertindak teliti dalam segala jalan yang ditempuh, guna kebaikan zhohir-bathin, dunia maupun akhirat, supaya hati tenteram, jasad nyaman, jangan sekali-kali timbul persengketaan, tidak lain tujuannya
“Budi Utama – Jasmani Sempurna”(Cageur-Bageur).
Tiada lain amalan kita, Thoriiqoh Qoodiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya, amalkan sebaik-baiknya guna mencapai segala kebaikan, menjauhi segala kejahatan zhohir bathin yang bertalian dengan jasmani maupun rohani, yang selalu diselimuti bujukan nafsu, digoda oleh perdaya syetan.
Wasiat ini harus dilaksanakan dengan seksama oleh segenap murid-murid agar supaya mencapai keselamatan DUNIA dan AKHIRAT.
Amin.
Patapan Suryalaya, 13 Pebruari 1956
Wasiat ini disampaikan kepada sekalian ikhwan
Ttd
(SYAIKH AHMAD SHOHIBUL WAFA TAJUL ARIFIN, r.a.)
AL FAATIHAH
UNTAIAN MUTIARA :
JANGAN BENCI KEPADA ULAMA YANG SEZAMAN
JANGAN MENYALAHKAN AJARAN ORANG LAIN
JANGAN MEMERIKSA MURID ORANG LAIN
JANGAN BERUBAH SIKAP MESKIPUN DISAKITI ORANG LAIN
HARUS MENYAYANGI ORANG YANG MEMBENCIMU
Bikaromati Syaikh Muhammad Abdul Ghaos Saifulloh Maslul, r.a. AL FATIHAH.

Wasalam wrwb. ( Uta )